Kantor urusan hak paten dan merek dagang AS, Rabu (26/10/2011), mengumumkan Apple berhak atas paten untuk sebuah mekanisme membuka mode lock ponsel atau mengaktifkan ponsel. Mekanisme ini dikenal dengan sebutan "Slide to Unlock".
Gesture 'unlock' ini sebenarnya telah dikenal sejak lama, tetapi mulai populer sejak dipakai Apple di produk smartphone-nya, iPhone. "Untuk membuka ponsel, saya tinggal menggunakan jari saya dan menggesernya ke samping. Kami membuat sesuatu yang membuat Anda tidak melakukan hal yang tak diinginkan saat ponsel berada di kantong," demikian yang dikatakan Steve Jobs saat peluncuran iPhone generasi pertama pada Januari 2007.
Saat ini, gerakan geser (sliding) untuk mengaktifkan ponsel ini banyak ditemukan di smartphone dan tablet Android, meski dengan mekanisme geser yang berbeda-beda. Namun dengan adanya paten ini, setiap perangkat yang menggunakan metode sliding untuk membuka perangkat pada layar sentuhnya berarti melanggar hak paten yang dimiliki Apple.
Vendor-vendor ponsel lain terutama yang menggunakan sistem operasi Android tentu tak akan tinggal diam dengan adanya paten ini. Ini akan semakin "memeriahkan" pertarungan hukum soal paten di sistem operasi mobile, terutama antara Apple dan Samsung.
Saturday, October 29, 2011
Friday, October 28, 2011
Facebook Tempatkan Server di Kutub Utara
Jejaring sosial terpopuler di dunia, Facebook, dikabarkan akan membangun sebuah kompleks server pertama mereka di luar Amerika Utara. Kompleks server ini terletak di Lulea, sebuah kota di utara Swedia yang berada 97 kilometer dari lingkaran Kutub Utara.
Pada area kompleks server dengan luas setara 11 lapangan bola ini akan terdapat tiga gedung yang akan menampung server-server Facebook. Suhu udara yang ekstra dingin di area yang berada di dekat kutub utara ini dimanfaatkan Facebook untuk menjaga suhu server dan peralatan pendukungnya tetap pada kondisi normal.
Sebagai sumber tenaga listrik, Facebook memanfaatkan sungai yang terdapat di kota Lulea untuk dijadikan pusat listrik tenaga air (PLTA).
Surat kabar lokal Swedia menyebutkan konstruksi gedung-gedung kompleks server Facebook ini akan selesai pada 2012. Perihal pembangunan kompleks server baru ini, perwakilan dari Facebook tidak bersedia memberikan komentar.
Mendirikan "perkampungan" server di negara bersuhu dingin ini telah dilirik sejak lama oleh beberapa perusahaan teknologi. Misalnya, Google yang telah lebih dulu mendirikan kompleks server atau server farm di Hamina, Finlandia, pada 2009. Microsoft pernah berencana mendirikan server farm di Siberia pada 2007, tetapi hingga kini tak jelas kabarnya.
Pada area kompleks server dengan luas setara 11 lapangan bola ini akan terdapat tiga gedung yang akan menampung server-server Facebook. Suhu udara yang ekstra dingin di area yang berada di dekat kutub utara ini dimanfaatkan Facebook untuk menjaga suhu server dan peralatan pendukungnya tetap pada kondisi normal.
Sebagai sumber tenaga listrik, Facebook memanfaatkan sungai yang terdapat di kota Lulea untuk dijadikan pusat listrik tenaga air (PLTA).
Surat kabar lokal Swedia menyebutkan konstruksi gedung-gedung kompleks server Facebook ini akan selesai pada 2012. Perihal pembangunan kompleks server baru ini, perwakilan dari Facebook tidak bersedia memberikan komentar.
Mendirikan "perkampungan" server di negara bersuhu dingin ini telah dilirik sejak lama oleh beberapa perusahaan teknologi. Misalnya, Google yang telah lebih dulu mendirikan kompleks server atau server farm di Hamina, Finlandia, pada 2009. Microsoft pernah berencana mendirikan server farm di Siberia pada 2007, tetapi hingga kini tak jelas kabarnya.
Spionase Jadi Tren Baru Serangan Cyber
Symantec, mengumumkan hasil survei terhadap 3.300 responden di 36 negara. Symantec mensurvei para profesional tingkat, tim TI strategis dan taktis, dan individu-individu yang bertugas pada sumber daya TI di perusahaan-perusahaan dengan rata-rata 5 hingga lebih dari 5000 karyawan. Survei dilakukan pada April dan Mei 2011.
Hasil survei menunjukkan, 69 persen organisasi atau perusahaan merasakan adanya serangan dalam 12 bulan terakhir. Sebanyak 15 persen melaporkan frekuensi serangan meningkat dan hampir semua (99 persen) menyatakan mengalami kerugian akibat serangan cyber sepanjang tahun 2011. Setidaknya ada tiga poin yang menjadi tren penting dari hasil survei tersebut.
Poin pertama adalah dengan berkembangnya sistem komputasi, perusahaan menjadi semakin protektif pada serangan cyber. Perusahaan tidak memungkiri penggunaan telepon pintar dan tablet di lingkungan mereka, serta semakin populernya jejaring sosial, juga merupakan pemicu datangnya serangan.
Kedua, tren serangan ternyata berasal dari kalangan internal. Perusahaan mengakui, spionase industri tetap menjadi kekhawatiran utama mereka. Sebanyak 45 persen responden mengakui menemukan orang dalam yang berbahaya. "Banyak serangan yang justru berasal dari internal perusahaan, karena masalah persaingan. Ini dianggap lebih berbahaya, karena dibandingkan serangan dari luar yang bisa diantisipasi secara global, serangan dari dalam akan sulit terlacak secara dini," ungkap Raymond Goh, Director Systems Engineering, Regional Asia Pasifik Symantec dalam media briefing di Grand Hyatt Hotel, Jakarta, Rabu (25/10/2011).
Poin ketiga adalah perusahaan menemukan bahwa serangan cyber merupakan fokus perusahaan di luar serangan yang bersifat fisik seperti terorisme, tindakan kriminal, dan bencana alam. Serangan cyber menduduki posisi pertama yang menjadi fokus perusahaan untuk diantisipasi lebih dahulu. Sebab, kerugian yang diakibatkan oleh serangan cyber menyebabkan kerugian minimal 290 ribu dolar AS dalam 12 bulan terakhir. Ingat, bagaimana perusahaan Sony harus berjuang mempertahankan pelanggan Play Station setelah diserang peretas secara besar-besaran.
Tiga kerugian teratas yang dilaporkan adalah down time, pencurian kekayaan intelektual, dan pencurian informasi finansial pelanggan. Kerugian ini setara dengan biaya keuangan dalam 79 persen dari seluruh waktu operasional. Hasil survei global ini harus menjadi perhatian pula di Indonesia. Dari hasil survei ini, Raymond Goh menyarankan agar praktisi TI pada perusahaan-perusahaan Indonesia juga mulai memikirkan pentingnya keamanan cyber bagi lingkungan perusahaan.
Subscribe to:
Posts (Atom)